Bersepeda ke Ketep Pass

Posted: May 2, 2011 in Ketep Pass
Tags: , , ,

Lokasi wajib goweser berfoto, No Loading, No Sarapan, No Teman

“Monggo langsung tindak mlebet mawon mas…..” (“Silakan langsung masuk saja mas….”)  begitu kalimat pertama yang aku dengar ketika menuju loket untuk membeli tiket masuk. Tak lupa aku mengucapkan terimakasih kepada petugas di loket yang berjumlah sekitar 4 orang sambil mereka memandangiku (entah karena kasihan atau karena naik sepeda sendirian). Sampai didalampun aku langsung berfoto-foto sendirian di bawah tulisan ‘Ketep Pass’, tentu saja hanya sepedaku yang aku foto. Beberapa saat kemudian salah satu petugas tadi menghampiriku sambil menawarkan untuk memotretkan diriku bila mau berfoto dilokasi favorit itu. Foto diatas adalah hasil jepretan petugas tadi. Aku sekali lagi mengucapkan terimakasih atas keramahan para petugas di sini.

Sabtu 30 April 2011 mengakhiri bulan April ini menuntaskan keinginan untuk bersepeda ke Ketep Pass yaitu gardu pandang gunung merapi dengan ketinggian sekitar 1200 dpal. Deskripsi tentang Ketep Pass ini silakan Googling sendiri.

Rute Yogya – Blabag : Berangkat dari rumah jam 05.50 wib seperti biasa gowes sendirian (lonerider) langsung menuju jalam Magelang dengan cuaca yang bersahabat yaitu teduh. Jalanan masih agak lengang walaupun ini bukan hari minggu.

Selepas dari perbatasan DIY – Jateng jalanan mulai menunjukkan geliatnya dengan banyaknya kendaraan umum maupun pribadi. Melewati Kali Putih yang sempat tertutup beberapa saat dulu karena banjir lahar dingin jalan sudah mandali (aman terkendali) meskipun dengan tetap waspada. Selepas kota Muntilan terdapat antrean kendaraan besar maupun kecil yang agak panjang karena jembatan Jumoyo tinggal 1 jalur disebabkan jalur yang satu rubuh terkena terjangan banjir lahar dingin merapi. Kondisi jalan Yogya – Blabag ini kutempuh dengan lancar.

Rute Blabag – Tlatar : Rute ini jalan mulai menanjak landai panjang, di km 5 dari Blabag aku istirahat minum teh hangat di warung. Habis sebatang rokok perjalanan aku lanjutkan kembali dengan jalanan yang makin nanjak, sebelum sampai pertigaan (pasar) Tlatar sempat mengabadikan sebuah masjid yang lumayan megah untuk ukuran daerah itu.


Rute Tlatar – km 14 :
Rute ini mulai membutuhkan kerja keras apalagi mendekati km 14 jalanan mulai nanjak tajam, deru mesin mengalahkan suara knalpot baik itu kendaraan roda 2, 4 atau lebih. Mulailah acara TTB alias nuntun karena memang tanjakan sangat curam menurut ukuranku mungkin bagi goweser lain yang punya fisik lebih dariku masih bertahan diatas sadel sepedanya.

Di rute ini air dalam botolku sudah habis bersamaan dengan habisnya tenagaku (tinggal 10%), di warung pertama yang kujumpai aku langsung pesan segelas teh hangat sambil minta diisi penuh botolku dengan teh yang hangat. Mendekati km 14 mungkin 60 % aku nuntun sepeda. Perlu diketahui aku dari rumah memang tidak sarapan (seperti kebiasaanku kalo bersepeda), diwarung yang aku singgahi pun aku cuma minum sambil merokok.

Km 14 – km 15 : Aku sudah hafal dengan kondisi fisikku bila bersepeda maka tenaga harus tersisa minimal 10 %, untuk menjaga jangan sampai terjadi apa-apa karena bersepeda sendirian tentu faktor resiko sangat aku perhitungkan apalagi di tengah jalan yang sepi. Tidak akan pernah aku paksakan walaupun masih ada sedikit tenaga untuk tetap berada diatas sadel. Disini aku sempat beristirahat agak lama hingga 2 batang rokok habis aku masih tetap istirahat mengumpulkan tenagaku kembali. 80 % di rute ini aku TTB.

Km 15 – Lokasi : Rute ini rasa-rasanya tanjakan makin heboh saja atau mungkin karena kelelahan yang makin mendera. Aku tak perlu malu untuk ber TTB ria baik pada rasa gengsiku maupun lingkungan. Sewaktu istirahat banyak pertanyaan yang biasa aku dengar “Rencange pundi mas ?” (“Temannya mana mas ?”) , “Piyambakan too mas ? (“Sendirian too mas ?”) bagiku itu adalah pertanyaan klasik. Dirute ini ada pengendara sepeda motor dari arah atas yang sempat berhenti menyapaku sekedar say hello ngobrol2 serta berkenalan dan ternyata dia adalah seorang pesepeda asal Muntilan yang masih juga berkata “Kok piyambakan mawon too mas”. Rute ini 95% aku TTB dengan langkah kaki yang asal bergerak maju.

Sampai dilokasi dalam foto diatas  ini rasa lega menumbuhkan semangat lagi disamping jalan terlihat agak landai dan perasaan ‘waahh ini dah sampai lokasi‘ membuatku naik keatas sadel….dan ternyata aku hanya bisa bertahan sekira 100 m – 150 m.

Di Lokasi : “Horeeeeeeeeeeeeeeee……….akhirnya sampai juga aku di Ketep Passbegitu suara jeritan hatiku tatkala aku sampai di lokasi


Belum sempat aku meletakkan sepedaku, mulutku dah mendahului untuk memesan 1 buah jagung bakar rasa manis dan segelas coffemix. Di warung ini aku beristirahat 1 jam untuk memulihkan kondisi dan cuaca makin mendung saja. Satu jam kemudian kondisiku dah 75% pulih aku masuk ke lokasi menuju loket (paragraf paling atas). Didalam lokasi aku cuma mengabadikan momen sepedaku bernarsis. Kondisi menurut  petugas yang ramah-ramah memang tak seramai hari minggu.

                              

                                                           

Cuaca semakin gelap akhirnya jam 13.30 hujan deras mengguyur kawasan ini, sejenak menunggu hujan reda namun tiada tanda2 akan segera berakhir. Tepat pukul 14.00 wib aku pakai mantol biru ku langsung meluncur pulang. Sampai pertigaan Tlatar dimana kalau kekiri langsung menuju Muntilan, semula rencana pulang lewat jalur Tlatar – Muntilan karena perhitungan jarak lebih pendek namun informasi dari warga sekitar air sungai lagi naik dan jembatan pun sudah tiada. Pada akhirnya jalur pulang = jalur berangkat, 4 km menjelang Blabag hujan reda maka kulepas mantolku. Sesampai Kali Putih hujan deras kembali mengguyur, tidak mau kemalaman di jalan karena tidak bawa peralatan untuk bersepeda dalam gelap maka kupakai kembali mantolku dan bersepeda dibawah guyuran hujan deras sampai rumah pukul 16.45 wib.

Setiba dirumah langsung mandi dan istirahat tiduran dan baru makan nasi pukul 19.00 wib. Praktis perjalanan mengasyikan dan melelahkan ini dari pagi jam 05.50 wib sampai rumah jam 16.45 sore perut hanya terisi 1 buah jagung bakar rasa manis dan minuman serta beberapa batang rokok.

“Bersepeda sendirian ????”  atau “bersepeda rombongan ???”  silakan pilih sesuai hati nurani masing-masing

Comments
  1. eko says:

    Wah top bgt ki juragane tekan ketep ik… jos gandosssss
    siap mengikuti jejak gowesan juragan saking solo3, hehehehe
    btw nge-gowes pke BH opo iku gan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s